Sabtu, 30 Oktober 2010

PEOPLE, Inilah Tubuh Yang Membanggakan Itu!

Di tengah semaraknya wacana eksplorasi tubuh manusia yang makin hari makin seragam ini, kita telah sangat biasa melihat hal-hal indah dan bersih tentang tubuh. Kita pun terlalu sering mendapat informasi tentang beragam cara untuk membuat tubuh menjadi terlihat indah dan bersih. Sekedar indah dan bersih. Indah dan bersih versi ‘televisi’ tentunya. Itu sebab ku ingin menyatakan Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia (BPPJS) ini Keren! Satu-satunya buku jorok yang mampu menyegarkan pikiranku! Meski begitu, ku sadari bahwa sangat mungkin kondisi yang coba dilukiskan oleh BPPJS ini adalah hal yang biasa saja (lumrah) terlihat bagi sebagian kecil orang, atau komunitas seperti kalangan medis, peneliti, masyarakat kota ataupun desa ‘terpinggir’. Namun, banyak informasi unik dan penting yang ingin disampaikan buku ini. Sebut saja tentang bagaimana kotoran-kotoran seperti upil, daki, air liur, muntahan, koreng, dahak, keringat, kotoran mata dan telinga, kentut adalah piranti penyelamat kebersihan tubuh.

Beberapa informasi unik tersampaikan di buku ini, seperti halnya ku baru tahu dari buku ini bahwa selain Lazzaro Spallanzani ( Ia menelan spons yang diikat tali untuk mengambil getah lambungnya, lalu mengepit di ketiaknya getah lambung yang berlumuran darah itu bersama makanan, demi mengetahui apakah terjadi proses pencernaan terhadap makanan itu) dan Francis Bacon (mati karena pneumonia akibat mengobservasi ayam mati yang dikubur dalam timbunan salju di malam musim dingin), masih banyak ilmuwan yang berkorban demi perkembangan ilmu pengetahuan melalui uji coba yang mengerikan, kotor, dan berbahaya. Belum lagi informasi segar yang kudapat tentang sepatu hak tinggi yang ternyata diciptakan karena adanya kota penuh tinja, atau jasa Raja Louis yang membuat bisnis parfum jadi berkembang pesat karna beliau suka buang air di pispot duduk sembari bertemu bawahannya.


Buku berwarna dasar putih ini seperti ingin membuka sisi lain tubuh yang selama ini tak populer, padahal sisi itu adalah penting dan pasti kegunaannya. Ia mengungkap gamblang kebiasaan-kebiasaan naluratif tubuh yang sering disembunyikan, juga jasad-jasad renik penting nan menjijikkan yang menempel pada tubuh. Yim Sook Young, berbekal latar belakang keilmuan yang cukup, dengan cerdik menginformasikan pengetahuannya. Dan dengan coretan -coretan lebay Kim I Rang, BPPJS ini berhasil tampil sangat jorok. Dan bagiku, ia berhasil menggaris bawahi catatan penting: betapa joroknya keseluruhan tubuh indah manusia sesungguhnya. Dan mereka berdua berhasil membongkar kedok akan fakta-fakta tubuh dengan cara yang tak biasa. Buku ini pun seolah ingin mempertanyakan: setelah ini, masihkah perlu berbangga-bangga pada tubuh ini? Memangnya, How Clean Can We Go sih? ;))

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tanpa Senjata, MARISOL VALLES GARCIA Kendalikan Kartel Narkoba

Marisol Valles Garcia, mahasiswi jurusan Kriminologi yang berusia 20 tahun ini di daulat menjadi Kepala Polisi Kota Praxedia Guadalupe Guerrero, Meksiko. “Dia satu-satunya orang yang menerima jabatan itu,” seru pejabat Kota Praxedia. Saat Pemerintah Kota Praxedis mengadakan sayembara bagi masyarakat yang memiliki gagasan tentang bagaimana membuat kota mereka lebih aman, Valles adalah salah satu warga yang merespons. Ia mengungkapkan gagasan mengenai konsep polisi masyarakat dan penerapannya di kota itu. Dewan kota menyukai gagasan Valles, dan menawarinya tugas sebagai Kepala Polisi. Gayung bersambut, karna kebetulan Valles pun adalah satu-satunya pelamar jabatan Kepala Polisi di kota itu. Valles mengemban tugas luar biasa dengan mengepalai 13 polisi lain untuk mengendalikan keamanan kota, yang diantaranya juga mencegah tindak kriminal yang dilakukan geng narkoba.


Kupikir, apa yang ia lakukan cukup istimewa, disaat kebanyakan orang menerima amanat jabatan dengan cara-cara busuk dan saling berebut demi alasan prestigious dan kekuasaan, ia terasa berbeda. Ia bertekad menghadapi geng atauu kartel narkoba itu tanpa senjata. “The Weapons we have are principles and values, which are the best weapons for preventation.” Ujarnya. Ia pun akan memperbanyak merekrut wanita untuk ditempatkan di lingkungannya masing-masing, melakukan pendekatan personal melalui tiap-tiap keluarga, mendeteksi kejahatan yang akan terjadi, serta tindak pencegahan.


Sebuah pilihan tindakan yang tak populer, mengingat peristiwa tewasnya Kepala Polisi Kota Pradexis terakhir yang tertembak di Juli 2009, serta catatan terbunuhnya 12 walikota di Meksiko oleh gang atau kartel narkoba sepanjang 2010, dan tewasnya lebih dari 2500 orang pada periode 1-10 Oktober ini. Kota Pradexis merupakan wilayah dimana persaingan brutal antara geng narkoba Juarez dan Sinalola dalam menguasai satu-satunya jalan bebas hambatan di kota itu, demi penguasaan akses penyelundupan narkoba ke wilayah Texas, AS. Kota kecil ini berbatasan dengan Ciudad Juarez, tempat yang dinobatkan sebagai zona non perang paling berbahaya di muka bumi sekaligus kota dengan pertumbuhan paling pesat di Meksiko, serta masuk wilayah negara bagian Chihuahua yang berbatasan langsung dengan AS, dengan tingkat pembunuhan tertinggi seantero Sombrero.


We are all afraid in Mexico now. We can’t let fear beat us,” ujarnya. Namun, ia tak memungkiri bahwa dirinya pun tak berbeda dengan Warga Meksiko lain, ia pun merasa takut. “Tapi saya lelah merasa takut. Saya tak mau terus-teusan merasa seperti ini,” serunya. Meski akan dikawal dua polisi lain, perempuan manis nan mungil ini menolak membawa senjata. Ia seperti ingin meneriakkan kekonsistensiannya pada pendekatan feminim yang ia gagas. Pilihan tindakan yang konyol bila ia tidak yakin benar dengan keberhasilan konsepnya, kupikir. Dan kuberharap dia telah sangat yakin. Ouhh, Head On, Senorita!!


Catatan:

Foto diambil dari usatoday.com

Referensi diambil dari Wikipedia, www.feministe.us, Harian Kompas dan Republika Jum'at 22Oktober 2010

Sabtu, 09 Oktober 2010

Harmonisasi, Pesan Titipan Badik Titipan Ayah?


Badik Titipan Ayah, satu dari Sinema 20 Wajah Indonesia SCTV yang tayang pada 2 Oktober 2010. FTV berlatar Bugis Makassar ini merupakan kolaborasi menarik antara sutradara (Dedi Setiadi), produser (Deddy Mizwar), dan pemain-pemain handal (Aspar Paturusi, Widyawati, Reza Rahadian, Tika Bravani, Guntara Hidayat, Ilham Anwar, dll).


Alkisah pemanggilan pulang Andi Aso (Reza Rahadian), mahasiswa semester akhir yang tengah sibuk dengan skripsinya, oleh kedua orang tuanya Karaeng Tiro (Aspar Paturusi) dan Karaeng Caya (Widyawati). Tertulis dalam surat, Aso diminta pulang perihal kawin lari (silariang) Andi Tenri (Tika Bravani) dan Firman (Guntara Hidayat), yang tak lain adalah satu-satunya adik perempuan kesayangannya dan sahabatnya. Kedekatan personal ketiganya, tergambar pada kilasan-kilasan lamunan Aso akan keceriaan masa kecil bersama Tenri dan Firman pada perjalanan pulangnya.


Tenri kesal menjumpai ikhtiarnya melembutkan hati sang ayah untuk merestui hubungannya dengan Firman tak kunjung berhasil. Tenri tak pernah mendapati penjelasan bahwasanya ada dendam di diri ayahnya pada ayah Firman (Karaeng Parapa) yang menuduhnya sebagai penipu. Ia tak pernah mendapati cerita pertengkaran dua sahabat (Karaeng Parapa dan Karaeng Tiro) dalam satu mobil, yang mengakibatkan kematian ayah Firman dan kebutaan ayahnya adalah penyebab tidak direstuinya jalinan kasihnya dengan Firman. Jalan terakhir yang ia pilih adalah hamil diluar nikah dan kawin lari (silariang).


Silariang adalah persoalan Siri’ (perbuatan yang sangat memalukan keluarga) bagi masyarakat Bugis. Keluarga perempuan yang melakukan Siri’ (Tumasiri’) berhak menuntut sang pria secara hukum adat, karena anggota keluarganya dibawa lari. Karaeng Tiro memanggil anak lelaki semata wayangnya untuk menyelesaikan masalah silariang-nya Tenri sesuai adat, juga membela kehormatan keluarga. Badik sang ayah pun berpindah tangan padanya.


Ditemani Limpo, anak angkat Karaeng Tiro, Aso mencari Tanre. Ketegangan perihal keteguhan hati Karaeng Tiro menjunjung tinggi adat, hingga tertekan dan menanggung malu perilaku anak perempuannya, serta kebimbangan Andi Aso dalam menerima Badik simbol persetujuan penyelesaian masalah secara adat atas adik dan sahabatnya, tergambar cukup lama di tengah cerita. Sementara kehadiran Candra, sahabat Aso di Kampus, tampak terlalu membebani cerita. Selain sebagai faktor ketiga yang akhirnya memberi celah terbongkarnya persembunyian Tanre, seharusnya dia bisa jadi faktor penguat informasi cerita perspektif Aso pada Tanre secara pribadi, diluar tekanan orang tuanya.


Klimaks cerita, Karaeng Tiro meninggal. Tanre datang bersama suami dan anaknya. Aso yang tengah sangat berduka, meluapkan emosi rasa bersalahnya pada kehadiran adik dan sahabatnya. Badik yang lama ia simpan dan menggelisahkannya pun ia arahkan ke tubuh Firman. Lupa diri, saat Tanre melindungi Firman, Aso tak peduli bila Badik itu harus melewati adiknya terlebih dahulu. Terlebih Lampo mengingatkan Aso pada prinsip adat: ‘Badik terhunus pantang disarungkan, sebelum menyelesaikan ‘tugas’nya menegakkan martabat keluarga.


Tak terduga, tangis dan seruan sang ibu menyerukan kembali kebimbangan Aso. Tak ia tarik Badik Titipan Ayah-nya itu, namun juga tak ia lanjutkan menghunus Badik itu ke tubuh adik dan sahabatnya. Semua seperti terhipnotis dalam lantunan kata demi kata sang ibu. Sang ibu yang tiba-tiba memberi perspektif berbeda, mengurai air mata dengan suara lantang tak sependapat bila harus mengubur sekaligus suami, anak, dan menantu dalam satu waktu. Tangis Karaeng Cayo seolah menggugah sisi pikir lain yang tak populer di masyarakatnya. Momen terindah, setelah sepanjang cerita dikemas dalam serba maskulin. Airmata dan dekonstruksi tegas Karaeng Cayo bagaikan hujan sehari di musim kemarau. Mengambil alih cucunya, Karaeng Cayo hendak mengajak anak-anaknya bersama menghadap ayahnya. Menghormatinya. Menyesali kesalahan bersama. Andi Aso melemparkan Badik-nya menjauhi Firman, lalu mendekap sahabatnya.


Meski menentang adat, Karaeng Cayo tak berniat menentang suaminya. Ia ingin tetap mengabdi dan menghormati Karaeng Tiro. Didampingi kedua anaknya, menantunya, dan cucu digendongannya, ia berjanji di hadapan jenazah suaminya, “Kami yang hidup ini..akan menjaga CINTA kepadamu..dan memanjatkan doa-doa kepadamu..”


Dengan cermat, tak ingin menyederhanakan masalah, BADIK TITIPAN AYAH ini dilengkapi dengan cerita bunuh dirinya LAMPA yang merasa tak mampu menyelesaikan amanah Karaeng Tiro, yang menghidupinya sejak kecil, di hadapan foto Karaeng Tiro. Seperti halnya Naga Bonar Jadi 2 dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini), film Deddy Mizwar ini pun menyelipkan pesan harmonisasi pola pikir 'lama' dan 'baru' yang tanpa menganaktirikan satu diantara yang lain. Dengan tak ingin melepas kesadaran dalam memandang titik-titik krusial di keduanya, maka tetap saja, sepertinya Ia tengah mengejakan penonton filmnya satu pesan lagi bagi bangsa.


Catatan : sumber foto dari Fanpage Facebook Badik Titipan Ayah

Sabtu, 25 September 2010

Tukilan Warna Tanah

Saat ku lelah dan putus asa memilah dan memilih buku di sebuah toko buku. Saat usai satu persatu buku yang kupegang dan baca sekilas kukembalikan ke rak nya. Sepasang mataku tertahan pada sebuah buku dengan cover nan indah. Buku dengan ilustrasi seorang gadis muda yang tengah duduk berpangku tangan pada jembatan kayu, ditemani beberapa kupu-kupu berwarna warni dan sekeranjang bunga. Gadis muda yang cantik. Menunggu 'entah'. Indah. Dan lalu kubaca cover belakang buku itu, tertulis bahwa buku itu menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Sejauh itu, aku belum bisa membayangkan isinya. Penasaran. Kubuka lembar demi lembar isi buku itu. Semakin Penasaran. Ilustrasi yang indah, dan cerita yang sejauh itu membuatku makin penasaran. Yah..kujatuhkan pilihan pada buku indah karya Kim Dong Hwa, seorang novelis grafis ternama asal negeri Jepang untuk kuresapi di rumah. Sebuah karya Trilogi.

Setelah usai membacanya, ku tertarik untuk menuliskan kembali analogi-analogi indah 'bunga-bunga' yang bertebaran di dalamnya. entahlah, mungkin karna ku memang tak bisa melukiskan bunga-bunga seindah yang dilakukan Kim.

- Namwon
(p76) Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam.
(p131) Semua bunga memiliki waktu dan tempatnya, tapi tiger lily adalah sejenis bunga yang hidup di pegunungan, dan dikagumi dari jauh. Yang ingin kukatakan adalah, tiger lily bukanlah bunga untuk dijinakkan. Ia harus dibiarkan di tengah alam.

- Chung-Myung
(p111) Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke arah matahari dan mekar, meskipun tidak ada siapa-siapa di dekatnya untuk menyaksikan.
(p154) Ini dinamakan bunga kamelia. Kamelia adalah satu-satunya bunga yang mekar di tengah salju. Tak heran bunga ini disebut dong baek (dong: musim dingin, baek: tumbuhan).

-Dialog antara Chung Myung (C M) dan Ehwa (E) (p155-156)
C M: Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca
E : Mereka nyaris kelihatan seolah-olah begitu tak sabar menantikan seseorang. Namun mereka sangat lelah dengan penantian itu hingga berubah jadi merah.
C M: Mungkin mereka menunggu kupu-kupu
E : Tidakkah sekarang terlalu dingin untuk kupu-kupu
C M: Itu sebabnya kamelia juga bunga yang konyol. Kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di atas kelopaknya. Bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup. Namun toh mereka masih saja menghias diri mereka dan menantikan kupu-kupu...Mereka benar-benar bunga yang bodoh...

Goresan Kim Dong Hwa, lembutnya warna-warni keseluruhan gambar, alur dan kisah yang belum familiar untukku, menjaga kestabilan posisi membacaku. Ahh, nice.. Lukisan aroma kesepian dan penantian yang menggantung dan malu-malu, kisah relasi cinta anak gadis dan ibunya, kisah relasi cinta 2 anak manusia dengan lawan jenisnya, kisah relasi cinta antar manusia dalam perbedaan usia, pun sudut pandang, terkisah dengan nuansa keluguan. Apa adanya. Sampai pada akhir cerita, buku ini menghipnotisku.

Mari melangkah pada Warna Air! <):)

Senin, 13 September 2010

Sulitnya menulis review Marmut Merah Jambu..Ku kini tengah membaca WARNA TANAH_Kim Dong Hwa.. ;)

Kamis, 05 Agustus 2010

Membaca Marmut Merah Jambu, Membaca Raditya Dika

Akhirnya ku memutuskan untuk membaca personal literature ini: Marmut Merah Jambu! Telah cukup lama ku meninggalkan novel bergenre komedi. Interview with Nyamuk-nya Hilman adalah novel terakhir itu. Entahlah, ku merasa tak tertarik saja lagi dengan cerita-cerita sejenis itu. Crispy! Honestly, ketertarikanku pada MMJ adalah sebab ketertarikanku pada progress si penulis: Raditya Dika!

Berawal dari melihatnya menjadi reporter lapangan di segmen Kambingisme Mata Najwa, kupikir ia berhasil mengharmonikan karakternya yang terlanjur dikenal kacau oleh masyarakat, dengan keseriusan pesan yang ingin disampaikan Mata Najwa. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan membuat narasumber gagap, karena pilihan kalimat yang tidak lumrah. Sebagai contoh saat ia mewawancarai anggota DPR dengan pertanyaan: "Mengapa gedung DPR kayak kodok?", "Jadi..kodok binatang kebersamaan?", "Kenapa di DPR harus ada istilah kontraksi..eh salah, interupsi?", atau saat mewawancarai Menpora, "Apa itu pemuda, pak? Apa syarat jadi pemuda?". Pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya substansial, namun dibahasakan dengan kalimat yang lugu, dan disampaikan oleh penanya muda nan kikuk, dan garing! :) Raditya Dika berhasil menyuguhkan keinginan Najwa agar pemirsa 'Menikmati Berita Dengan Cara Berbeda'. Setidaknya itulah yang aku rasakan.

Dan, ketertarikanku bertambah saat tanpa sengaja membaca salah satu tulisan di blog raditya dika di Yahoo! Indonesia OMG!: Tentang Quarter Life Crisis and American Beauty. Wow! Dia nggak cetek! Apa yang ia tulis beranjak meaningfull. Akupun hanyut membaca tulisan lain di blog itu, What I Learned From Seinfeld, What I Learned From Pixar, What I Learned From David Sedaris, What I Learned From Woody Allen, dan terakhir What I Learned: Belajar Cinta Dari Sims3.. Hmm.. Kuberpikir, dan kemudian hadir sebuah harapan bahwa di kemudian hari, aku membaca Don Quixote ala Indonesia yang ditulis oleh-nya. Hidup Satir! Semoga.

Dan kini ku membaca Marmut Merah Jambu.. :)

Sabtu, 03 Juli 2010

WORRYing, After A While..

Realizing..


Tryin’ to follow the rhythm..

The Rhythm of Life

Life that actually not only about my life

The Rhythm of life that actually not only about The Rhythm of my life


Sadari bahwa diri dalam kehidupan menolak untuk sendiri

Sadari bahwa diri dalam kehidupan tak mungkin sendiri

Tryin' to not to obey the mere Ego

My mere Ego that will dry my self

Meski,

Following the rhythm of life

Is not only the rhythm of your life


-----


It’s not only about love

It’s only about life

It’s about how you’ll live your life. Our life.


-----


Tryin’ to balance the beat of your life

Tryin’ to hold on

And following the rhythm of your life


-----


This ain’t a love talk

It’s about how’ll I live my life

It’s about how’ll you live your life


It’s not only about love

I set you free

Letting you find the love of your life


Don't wanna hurt my life because of love of my love

My love that find the life at others life

And not of my life..


Maret, 2010

-Mai Amalia-


Kamis, 01 Juli 2010

HERE I GO AGAIN


Bram namaku. Tidak seperti teman-teman sebayaku, aku tak yakin dengan dimana dan kapan aku dilahirkan. Ingatanku akan masa kecil ‘samar’. Saat teman-temanku berkisah tentang kebahagiaan sejarah hidup mereka yang terdokumentasikan dalam foto ataupun video, aku hanya terdiam dan tertegun. Aku kehabisan akal untuk mengimbangi pembicaraan. Kukerutkan dahi, berpikir keras mencoba mengingat-ingat. Sepertinya aku memang tidak memiliki kisah yang sama dengan mereka. Kebahagiaan masa kecil?! Sungguh, aku benar-benar kesulitan untuk mengingatnya. Blur!

Berdasarkan akte kelahiran yang pernah kubaca, kini aku telah berumur 17 tahun. Lagi-lagi, tidak seperti teman-temanku yang lain atau bahkan saudara kandungku sendiri, hari ulang tahunku terlewatkan begitu saja. Padaku, tidak ada kebahagiaan yang bersifat cuma-cuma. Kebahagiaan harus kutebus dengan ongkos psikologis yang setimpal. Bila seorang anak wajar untuk digambarkan sebagai makhluk dengan ketergantungan penuh pada orang tuanya, hal itu tidak berlaku bagiku. Aku harus membayar ‘ongkos’ repotnya kedua orang tuaku dengan mendengar dongengan sengit ibuku yang mengungkit-ungkit betapa sulitnya mendidik aku sejak kecil.

“Dasar anak gak tau terima kasih! Asal kamu tau aja ya, dulu tuh kamu itu jorok, rakus, nakalnya..aa bukan main! Pokoknya malu-maluin deh!” begitu Ibu sering bilang kalau ia sedang jengkel padaku.

Di rumah, aku mendapat tugas mencuci piring, gelas dan perabot dapur, serta memasak nasi. Tidak hanya itu, aku mendapat tugas tambahan menjadi duta ke luar rumah, baik untuk pergi ke warung, manggil tukang pijat atau sering juga belanja ke pasar. Tugas tambahan ini terkadang menjadi momok bagiku karena bisa datang sewaktu-waktu, bahkan saat aku sedang berkonsentrasi mengerjakan tugas sekolah, belajar, ataupun sedang tidak mood.

Kalau saja aku boleh memilih, sesungguhnya aku lebih memilih untuk mendapat tugas seperti yang diberikan kepada saudara perempuanku, yaitu merapikan rumah. Iya…sekedar merapikan rumah, tidak perlu bersih. Tugas utama yang diberikan padanya adalah belajar. Keberatan yang bukan disebabkan oleh banyaknya item pekerjaan, melainkan perlakuan berbeda yang membuat hatiku resah. Ku merasa diperlakukan berbeda. Apapun yang sudah kulakukan tidak pernah diapresiasi kedua orang tuaku. Yang kuingat hanyalah celaan dan makian.

“Bra…aam!”

“Kalo nyuci yang bersih dong! Pake’ sabun gak sih, koq masih berminyak begini?! Dicuci lagi sana!” Begitu ibu bilang sambil mengangkat dan mencium piring atau gelas yang telah kucuci. Seringkali ibu juga berkata begini padaku:

“Yang paling banyak makan dan minum, ya memang sepantasnya harus kerja paling giat. Sana masak nasi, abis itu masak air jangan lupa!” Pernyataan itu seringnya keluar saat aku sedang mengambil nasi, atau menuangkan air dari ceret. Hal itu membuat nafsu makanku memburuk.

Hari-hariku terasa melelahkan. Semua kulakukan dengan beban dan rasa takut kepada orang tua. Terasa berat, karena kukeberatan dengan perlakuan yang berbeda. Ku merasa tak pernah diberi pilihan selain menjadi lelaki penurut. Aku tak ingin protes sebab bapakku pernah bilang : “Ridhanya Allah itu adalah ridhanya orang tua, jadi kalau orang tua tidak ridha, maka Allah juga tidak ridha.”

Dia juga pernah bilang begini :

“…Bahkan untuk berkata ‘UFH..!’ pada ibu, akan dibalas dengan laknat Allah.”

Aku gak mau disebut sebagai anak yang tidak tahu balas budi, karena mereka telah repot membesarkan aku.

-----

Tujuh belas tahun sudah umurku. Aku tengah berusaha menjadi laki-laki. Aku jengah. Aku lelah dengan pola hidup yang telah kujalani. Aku adalah laki-laki. Ibu sering bilang begini kalau nilai raportku menurun :

“Dasar, kamu itu laki-laki harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan! Anak laki-laki koq Bodoh ?! Ka..aamu tuh nanti jadi kepala rumah tangga, tugasmu nanti nyari duit. Mau dikasih makan apa anak-istrimu nanti, kalau kamu Bodoh kayak gini !”

Tujuh belas tahun sudah umurku dan aku adalah laki-laki. Aku menjadi laki-laki. Laki-laki harus punya “sesuatu” yang bisa dibanggakan. Sampai saat ini, yang kutahu, aku cukup lihai membuat komik. Diam-diam aku juga nge-band. Ya…Cuma itu saat ini yang bisa kujadikan pegangan. Kebetulan, semua itu adalah hal yang dianggap sebagai suatu hal yang sia-sia bagi kedua orang tuaku. Tapi, kupikir-pikir…nggak juga, buktinya kebanyakan teman bapak yang kaya, mengaku berprofesi sebagai seniman; baik itu pelukis ataupun penyanyi. Dan, banyak juga tokoh-tokoh yang bagiku hanif, berprofesi sebagai seniman. Iwan Fals contohnya.

Kunyanyikan syair Here I Go Again-nya 'Whitesnake' : “Here I go again on my own. Goin’ down the only road I’ve never known. Like a drifter I was born to walk alone. And I’ve made up my mind. I ain’t wasting no more time. I’m just another heart in need of rescue. Waiting on love’s sweet charity. And I’m gonna hold on for the best of my days”.

Saat kugundah dan jenuh, kilasan peristiwa masa lalu itu tampak paradoks bagiku. Aku tak ingin menjadi seorang anak laki-laki, yang dengan usia tujuh belas tahun tidak tahu pasti akan menjadi apa. Aku tak ingin menjadi seorang anak laki-laki yang tidak hanya tidak punya masa depan, namun juga dengan masa lalu yang ‘blur’. Terlebih, ku dituntut kedua orang tuaku untuk berpikir cerdas, karena ku harus menjadi imam bagi keluargaku nanti.

Aku merasa harus merubah cara hidupku. Bila aku stuck in a moment, dan mengikuti apa yang akan terjadi saat ini dan nanti dengan perasaan tidak terima, maka aku tidak bersyukur. Ketidakterimaan akan kehidupanku akan membelengguku. Aku merubah cara pandang hidupku. Aku merubah perilaku hidupku.

Kini, aku tetap tinggal di rumah orang tuaku dan berlaku seperti tinggal di rumah sendiri. Aku mencoba menikmati hari-hariku dengan melakukan apa yang kuingin lakukan. Aku tidak lagi mencuci piring di pagi hari sebelum berangkat sekolah, bila aku sedang malas bangun terlalu pagi. Aku melakukan tugas hanya bila aku memang ingin melakukannya. Aku tidak ingin terpaksa. Dan jangan sampai ada yang memaksa, karena aku akan marah besar.

Ya…aku mulai berani marah. Kemarahanku telah memecahkan kaca kamarku, menghancurkan pintu kamar dan seringkali membuat linu jemari tanganku disebabkan karena memar sehabis kutonjokkan pada dinding kamarku.

Aku tetap menggambar, tetap membaca komik, bermain musik dan bernyanyi. Ibu pernah marah besar. Ibu sangat marah dan kemudian mengeluarkan kalimat-kalimat pamungkas yang menyinggung perasaanku sebagai seorang laki-laki. Aku diam menahan marah. Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan energi yang terserap oleh omelan dan kemudian aku berteriak :

“D I…AAM !!” sembari menendang pintu kamar dan kemudian pergi menginap di rumah teman beberapa hari.

Sejak kejadian itu aku menjadi terbiasa bertindak kasar setiap kali ibuku juga bertindak kasar. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, dengan sedikit variasi disana sini, tentunya. Pada awalnya aku merasa kikuk, namun lama kelamaan menjadi terbiasa. Aku mulai terbiasa dengan muka sinis ibuku. Aku mulai terbiasa dengan obrolan kaku bapakku. Aku mulai terbiasa dengan kesendirianku. Aku mulai terbiasa dengan keterasinganku dengan orang-orang rumah.

Aku mulai terbiasa dengan segala perlakuan sinis orang-orang di sekitarku, hingga aku pun melakukan keseharianku dengan biasa-biasa saja. Kini aku mulai menikmati hidupku. Meski terkadang pertengkaran demi pertengkaran terjadi, ku juga sering membantu ibuku mencuci piring, memasak nasi ataupun air untuk orang-orang di rumah. Semua tugas itu kulakukan tanpa dikomandani dan dikomentari. Tanpa komentar lisan tepatnya, karena ibuku berkata-kata dengan lirikan matanya. Terserah apa artinya, yang terpenting bagiku, saat ini, tidak ada komentar negatif. Aku bosan dengan yang negatif-negatif. Tidak dikomentari saja cukup, tidak perlu dipuji.

Sampai saat ini aku masih menganggap benar jalanku. Aku merasa tidak ada yang salah dengan pilihanku dan aku menikmati hari-hariku. Aku sekedar ingin mencari sesuatu yang bisa dibanggakan, karena aku adalah laki-laki. Laki-laki harus mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan; sesuai dengan pesanan ibuku. Kehidupanku dengan kedua orang tuaku memang tidak harmonis, namun kini aku berdamai dengan diriku sendiri. Kelak, aku akan menjelaskan semuanya dengan kesuksesan yang kucapai dengan jalanku ini. Dan bila yang terjadi adalah ketidaksuksesan, maka anggap saja aku khilaf. Bila memang apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, sebagai laki-laki, tentunya aku akan mengakui dan memperbaiki kesalahanku. Tolong dimaafkan saja.

-----


Yang pasti aku ketahui adalah

Terlalu banyak kelemahan,

Terlalu banyak kegagalan,

Terlalu banyak celah pada diri-diri,

Untuk dimaki,

Untuk disyukuri,

Untuk dimaklumi.

Bisa dimaklumi.


“…Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas Ampunan (Nya)…” (QS. An-Najm : 32)


-Mai Amalia-

Selasa, 29 Juni 2010

Love Walks In

Van Halen Lyric

Contact! is all it takes
To change your life to lose your place in time
Contact! asleep or awake
Coming around you may wake up to find
Questions deep within your eyes
No more then ever you realized

And then you sense a change
Nothing feels a same
All your dreams are strange
Love comes walkin' in
Some kind of alien
Reach for the opening
Then simply pulls a string

Another world
Some other time
You lay your sanity on the line
Familiar faces
Familiar sights
Reach back remember with all your might
Ohh there she stands in a silken gown
Silver lights shining down

And then you sense a change
Nothing feels a same
All your dreams are strange
Love comes walkin' in
Some kind of alien
Reach for the opening
Then simply pulls a string
Love comes walkin' in

Sleep and dream that's all I crave
I travel far across the Milky Way
To my master I become a slave
Til' we meet again some other day
Where silence speaks as loud as war
And the earth returns to what it was before

And then you sense a change
Nothing feels a same
All your dreams are strange
Love comes walkin' in
Some kind of alien
Reach for the opening
Then simply pulls a string
Love comes walkin' in

Jumat, 07 Mei 2010

DON QUIXOTE

(Sinopsis sebuah mega karya CERVANTES yang dikisahkan kembali oleh RONALD D.K STORER)



Alkisah seorang pria bangsawan Spanyol yang telah tak muda lagi. Ia memiliki hobi membaca. Seringkali, Ia membaca buku seharian penuh. Buku-buku yang Ia baca hanyalah buku-buku roman ksatria abad pertengahan. Hobinya pada membaca itu, menghantar Ia pada delusi menjadi seorang ksatria. Berbekal baju besi dan pedang tua warisan nenek moyangnya, Ia memulai perjalanan suci bersama kuda kurusnya 'Rosinante’ dan merasa sebagai seorang ksatria sejati. Ia bertekad mengembara demi membela kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tertindas. Ia adalah DON QUIXOTE DE LA MANCHA.


Setelah melewati beberapa petualangan, sang ksatria mengajak tetangganya yang miskin, Sancho Panza, untuk menjadi pengawalnya. Bersama pengawal setianya itu, Don Quixote berpetualang melawan musuh-musuh imajinernya. Tak ada raksasa, penyihir, atau musuh yang nyata. Tak ada juga kastil megah, tuan pemilik kastil, atau pun Dulcinea of Toboso (wanita pujaan Don Quixote yang dalam imajinasinya adalah wanita terhormat dan cantik). Sang ksatria mengembara menemui pertarungan demi pertarungan konyol yang tak pernah disangka-sangka oleh Sancho Panza. Don Quixote kehilangan akal sehatnya. Ia adalah pria yang malang. Ia bertarung melawan kincir angin, domba-domba, merampas loyang kuningan milik pemotong rambut yang ia pikir adalah Helm Mambrino, dan menantang singa jinak persembahan untuk seorang raja. Petualangan yang secara kasat mata ‘tak ksatria’.


James Baldwin pernah berkata atas Don Quixote, ’We may laugh at his adventures, We may excuse his faults, and We may learn wisdom from his experience.’ Benar saja, entah disadari atau tidak, Cervantes melekatkan pesan moral secara ksatria pada karyanya ini. Ia berjarak dari kesan menggurui, alih-alih menghibur, dan ketidakwarasan tingkah laku sang tokoh pun tak mampu membuat pembaca rela mencibir padanya. Novel saku bergambar ini adalah ikhtiar peringkasan karya asli Cervantes. Dibanding karya asli Cervantes, membaca novel saku ini terasa jauh lebih ringan. Konflik psikologis personal dan antar personal tak mampu terjamah disini. Namun demi memperluas obyek pengagum Don Quixote, mengingat kekagumanku pada karya asli nya, ku selesai menerjemahkan novel saku bergambar ini.
 
M a I T I M E - Blogger Templates, - by Templates para novo blogger Displayed on lasik Singapore eye clinic.