Sabtu, 25 September 2010

Tukilan Warna Tanah

Saat ku lelah dan putus asa memilah dan memilih buku di sebuah toko buku. Saat usai satu persatu buku yang kupegang dan baca sekilas kukembalikan ke rak nya. Sepasang mataku tertahan pada sebuah buku dengan cover nan indah. Buku dengan ilustrasi seorang gadis muda yang tengah duduk berpangku tangan pada jembatan kayu, ditemani beberapa kupu-kupu berwarna warni dan sekeranjang bunga. Gadis muda yang cantik. Menunggu 'entah'. Indah. Dan lalu kubaca cover belakang buku itu, tertulis bahwa buku itu menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Sejauh itu, aku belum bisa membayangkan isinya. Penasaran. Kubuka lembar demi lembar isi buku itu. Semakin Penasaran. Ilustrasi yang indah, dan cerita yang sejauh itu membuatku makin penasaran. Yah..kujatuhkan pilihan pada buku indah karya Kim Dong Hwa, seorang novelis grafis ternama asal negeri Jepang untuk kuresapi di rumah. Sebuah karya Trilogi.

Setelah usai membacanya, ku tertarik untuk menuliskan kembali analogi-analogi indah 'bunga-bunga' yang bertebaran di dalamnya. entahlah, mungkin karna ku memang tak bisa melukiskan bunga-bunga seindah yang dilakukan Kim.

- Namwon
(p76) Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam.
(p131) Semua bunga memiliki waktu dan tempatnya, tapi tiger lily adalah sejenis bunga yang hidup di pegunungan, dan dikagumi dari jauh. Yang ingin kukatakan adalah, tiger lily bukanlah bunga untuk dijinakkan. Ia harus dibiarkan di tengah alam.

- Chung-Myung
(p111) Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke arah matahari dan mekar, meskipun tidak ada siapa-siapa di dekatnya untuk menyaksikan.
(p154) Ini dinamakan bunga kamelia. Kamelia adalah satu-satunya bunga yang mekar di tengah salju. Tak heran bunga ini disebut dong baek (dong: musim dingin, baek: tumbuhan).

-Dialog antara Chung Myung (C M) dan Ehwa (E) (p155-156)
C M: Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca
E : Mereka nyaris kelihatan seolah-olah begitu tak sabar menantikan seseorang. Namun mereka sangat lelah dengan penantian itu hingga berubah jadi merah.
C M: Mungkin mereka menunggu kupu-kupu
E : Tidakkah sekarang terlalu dingin untuk kupu-kupu
C M: Itu sebabnya kamelia juga bunga yang konyol. Kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di atas kelopaknya. Bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup. Namun toh mereka masih saja menghias diri mereka dan menantikan kupu-kupu...Mereka benar-benar bunga yang bodoh...

Goresan Kim Dong Hwa, lembutnya warna-warni keseluruhan gambar, alur dan kisah yang belum familiar untukku, menjaga kestabilan posisi membacaku. Ahh, nice.. Lukisan aroma kesepian dan penantian yang menggantung dan malu-malu, kisah relasi cinta anak gadis dan ibunya, kisah relasi cinta 2 anak manusia dengan lawan jenisnya, kisah relasi cinta antar manusia dalam perbedaan usia, pun sudut pandang, terkisah dengan nuansa keluguan. Apa adanya. Sampai pada akhir cerita, buku ini menghipnotisku.

Mari melangkah pada Warna Air! <):)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
M a I T I M E - Blogger Templates, - by Templates para novo blogger Displayed on lasik Singapore eye clinic.